PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA

ILMU ILMIAH ALAMIAH

Minggu, 29 Maret 2009

KAJIAN PRAANGGAPAN DAN IMPLIKATUR WACANA LISAN DIALOG LIPUTAN ENAM PETANG SCTV

KAJIAN PRAANGGAPAN DAN IMPLIKATUR WACANA LISAN DIALOG LIPUTAN ENAM PETANG SCTV
Oleh Arono1
FKIP Universitas Bengkulu

ABSTRACT
Liputan Enam SCTV was kind of oral discourse that was dialogue. Research problems that were discussed in this eresearch were kind of speech act, function of speech act, and the continuation of speech act. The aim of this research was to know speech act based on those three points of view. This research was descriptive qualitative research by using content analysis. The result of this research showed that kind and function of speech acts were: representative speech act was function as to convey, to explain, to clarify, to ask, and to assume; directive speech act was function as to suggest and to request; expressive speech act was function as to say thank you and congratulation; and declarative speech act was function as to agree and disagree, and to make solid. Based on the continuation of speech act directly appeared statements that were mood imperative and performative explicits.

Kata kunci: tindak tutur, tindak ujar, wacana dialog.

PENDAHULUAN
Media elektronika sebagai satu wadah penentu perkembangan bahasa Indonesia yaitu media audiovisual. Saat ini hampir seluruh masyarakat Indonesia dapat menikmati acara-acara televisi ditambah lagi menjamurnya digital atau yang dulunya parabola di sebagian besar rumah-rumah penduduk. Seiring dengan itu bermunculan pula program-program siaran televisi swasta seperti RCTI, SCTV, TPI, AN TEVE, METRO TV, dan INDOSIAR yang meyuguhkan berbagai bentuk siaran atau berita aktual dengan kemasan yang berbeda.
2Dosen pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas BengkuluDiperkirakan 65% dari penduduk Indonesia ini merupakan generasi muda, dan mereka ini dibesarkan oleh TV. Menurut statistik 1993 (dalam Alwasilah, 1997:72), 66% dari anak-anak usia 10 tahun lebih banyak nonton TV daripada membaca koran atau majalah, yang hanya dibaca oleh 22,25%. Secara tidak langsung hal itu akan berpengaruh terhadap penggunaan bahasa media televisi terhadap pemakaian bahasa penontonnya. Apalagi saat itu (saat penelitian ini dialakukan) tahun 2001/2002 berita merupakan informasi yang ditunggu-tunggu sebagai informasi utama dalam mengamati pemerintahan, sosial, budaya, politik, dan hankam di dalam bergulirnya erareformasi. Acara Liputan Enam SCTV merupakan salah satu acara yang ditayangkan Surya Citra Televisi (SCTV). Acara dengan jam tayang tiga kali sehari ini banyak diminati oleh penonton, selain karena beritanya aktual, tajam, dan terpercaya, acara ini juga dilengkapi dialog secara langsung dengan durasi sepuluh menit dari satu jam penayangan. Hal ini juga didukung oleh pembawa acara yang punya kemampuan berbahasa yang baik, ditambah dengan narasumber yang berbobot.
Sebagai wacana lisan, bahasa bukan saja merupakan properti yang ada dalam diri manusia yang dikaji sepihak oleh para ahli bahasa, tetapi bahasa juga alat komunikasi antarpersona. Komunikasi selalu diiringi oleh interpretasi yang di dalamnya terkandung makna, dari sudut pandang wacana, maka tidak pernah bersifat absolut; selalu ditentukan oleh berbagai konteks yang selalu mengacu kepada tanda-tanda yang terdapat dalam kehidupan manusia yang di dalamnya ada budaya. Karena itu, tidak pernah lepas dari konteks
Dialog yang dilakukan oleh pewawancara, narasumber, dan telewawancara bahwa tidak tutur yang mereka gunakan tidak selalu mengatakan maksud seperti apa yang mereka maksudkan sebagaimana adanya, tentu akan terdapat permasalahan dalam tuturan. Selain itu, tindak tutur dalam bahasa Indonesia ada banyak kata kerja yang mengacu pada mereka seperti bertanya, memohon, memohon dengan syarat, dan lain-lain. Walaupun kata kerja-kata kerja dalam bahasa Indonesia Indonesia dilengkapi dengan taksonomi awal yang berguna untuk tindak tutur, tetapi tidak sama dengan nama-nama dengan kata kerja yang ada. Oleh sebab itu, kedalaman indereksi dalam wacana yakni jarak antara apa yang dikatakan dengan apa yang dimaksudkan dan banyaknya lapisan makna di bawah makna proposisi literal ujaran dan tindakan yang diperformasikan dalam konteks. Selain itu, para penutur tidak selalu menyatakan maksud seperti apa yang mereka katakan (Ibrahim, 1993:105). Untuk menghasilkan gambaran yang jelas diperlukan suatu analisis kerjasama partisipan, tindak tutur, penggalan pasangan percakapan, pembukaan dan penutupan percakapan, topik percakapan, tata bahasa percakapan, dan analisis alih kode.
Wacana dialog merupakan suatu ucapan, percakapan, dan kuliah yang berbentuk lisan dan tulisan. Namun untuk kepentingan ini wacana yang dipilih berbentuk ujaran lisan, terutama wacana yang dilakukan dalam rangka berbicara atau suatau inti bahasa yang berfungsi dalam suatau percakapan yang disebut tindak tutur. Sebagai ujaran lisan, membicarakan suatu hal, penyajian teratur dan sistematis, memiliki satu kesatuan misi, serta dibentuk oleh unsur segmental dan nonsegmental dapat dikatakan sudah memenuhi persyaratan sebagai wacana dialog (Syamsuddin, 1997:8). Oleh karena itu, tindak tutur dalam wacana dialog dapat dianalisis berdasarkan jenis, sifat hubungan, dan hakikat pemakaiannya. Mengingat keterbatasan yang ada, penulis hanya memfokuskan pada jenis dan fungsi, serta sifat hubungan. Tidak tutur berdasarkan jenis artinya maksud atau fungsi penutur ketika berbicara berupa tindak representatif, komisif, direktif, ekspresif, dan deklaratif, sedangkan fungsinya merupakan ujaran yang dimaksudkan atau penjabaran dari jenis tuturan itu sendiri. Untuk tingkat kelangsungan mengacu pada tuturan ilokusi artinya jarak tempuh yang diambil sebuah ujaran yaitu titik lokusi ( di benak penutur) ke titik ujaran ilokusi (di benak mitratutur atau pendengar).
Sehubungan dengan permasalahan tersebut, tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan jenis, fungsi, dan tingkat kelangsungan tindak tutur yang digunakan di dalam wacana dialog Liputan Enam SCTV. Dengan mengungkapkan hal tersebut diharapakan akan berguna bagi perkembangan ilmu linguistik khususnya analisis wacana dialog, bahan dalam pembelajaran bahasa, dan sumbangsih terhadap bahasa penyiaran dalam dunia pertelevisian.
Istilah wacana dalam bahasa Inggris adalah discourse berasal dari bahasa Latin discursus yang berarti lari kian kemari (Tarigan, 1987:23). Dalam KBBI (1994:1122) wacana berarti (1) ucapan; perkataan; tuturan, (2) keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan, (3) satuan bahasa terlengkap; realisasinya tampak pada bentuk karangan yang utuh. Hal itu diperjelas Samsuri (dalam Syamsuddin, 1997:6) wacana adalah rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi, dalam hal ini komunikasi verbal antara pembicara dan teman atau lawan bicara dalam proses berkesinambungan proposisi. Senada dengan itu Kridalaksana (1982:179) menyatakan bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh. Berdasarkan hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa wacana adalah rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal/subjek yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam satu kesatuan yang koheren, dibentuk oleh unsure segmental maupun nonsegmental bahasa.
Peristiwa tutur merupakan sebuah tindak tutur yang berfungsi dalam interaksi verbal dan nonverbal. Peristiwa tindak tutur dapat berbentuk mengundang, meminta, meyakinkan, dan melaporkan (Suwito, 1982:88). Peristiwa tutur menitikberatkan pada kajian peristiwa sedangkan tindak tutur menitikberatkan pada makna atau arti tindak tutur tersebut. Dalam peristiwa tutur terdapat tindak tutur yang jenisnya bermacam-macam. Fenomena tindak tutur inilah sebenarnya yang merupakan fenomena aktual dalam situasi tutur. Richard (dalam Syamsuddin, 1992:46) mengartikan tindak tutur adalah sesuatu yang dilakukan dalam rangka berbicara atau suatu inti bahasa yang berfungsi di dalam sebuah percakapan. Kalau peridstiwa itu dalam bentuk praktisnya adalah wacana yang berupa percakapan, maka tindak tutur merupakan unsur pembentuknya yang berupa tuturan.
Austin (dalam Ibrahim, 1993:106) menyatakan bahwa terdapat banyak hal yang berbeda yang bisa dilakukan dengan kata-kata. Pandangannya yang paling besar adalah bahwa sebagian ujaran bukanlah pernyataan tentang informasi tertentu, tetapi ujaran itu merupakan tindakan. Fokusnya adalah pada ujaran yang dikemukakan secara penuh dalam mode linguistik penjelasan dan masalah yang timbul ketika konsep tindak tutur diterapkan pada percakapan alami, seperti Dialog Liputan Enam SCTV. Teori tindak tutur menekankan pada penggunaan bahasa dan dalam kenyataannya berlaku pada ujaran bukan kalimat, tetapi telah tergantung pada keputusan introspektif mengenai kalimat-kalimat lepas.
Menurut Austin jenis tidak tutur sengat banyak kemudian disederhanakan oleh Searle (dalam Syamsuddin, 1992:97) menjadi lima kelompok: (1) tindak representatif yaitu tindak tutur yang berfungsi menetapkan atau menjelaskan apa dan bagaimana sesuatu itu adanya seperti tindakan menyatakan, mengemukakan, meminta, dan mengira. (2) tindak komisif yaitu tindak tutur yang berfungsi mendorong pembicara untuk melakukan sesuatu seperti tindak berjanji, bersumpah, ancaman, dan bernazar. (3) tindak direktif yaitu tindak tutur yang berfungsi mendorong pendengar untuk melakukan sesuatu seperti mengususlkan, memohon, mendesak, menentang, dan memerintahkan. (4) tindak ekspresif yaitu tindak tutur yang menyangkut perasaan dan sikap seperti tindakan meminta maaf, berterima kasih, ucapan selamat, mengkritik, dan memuji. (5) tindak diklaratif yaitu tindak tutur yang berfungsi menggambarkan perubahan dalam suatu keadaan hubungan misalnya menyetujui, tidak setuju, dan memmantapkan.
Austin juga membedakan tiga jenis tindakan yang berkaitan dengan ujaran. Ketiganya adalah lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Tindak lokusi adalah tindak berbicara atau tindak bertutur dengan mengucapkan sesuatu sesuai dengan makna kata itu dan menurut kaidah sintaksisnya. Tindak ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu yang berhubungan dengan maksud, fungsi, daya ujaran yang bersangkutan, sedangkan tindak perlokusi adalah mengacu ke efek yang dihasilkan penutur dengan mengatakan sesuatu. Lokusi dan ilokusi dikatakan sebagai act (tindak) dan perlokusi dikatakan sebagai efek, bedanya terletak pada dalam mengetakan sesuatu dan dengan mengatakan sesuatu (Leech, 1983:199).
Dalam satu bentuk ujaran dapat mempunyai lebih dari satu fungsi. Kebalikannya adalah kenyataan di dalam komunikasi yang sebenarnya yakni bahwa satu fungsi dapat dinyatakan, dilayani atau diutarakan dalam berbagai bentuk ujaran. Menyuruh misalnya dapat diungkapkan dengan menggunakan bentuk ujaran yang berupa kalimat bermodus imperatif, kalimat performatif eksplisit, kalimat performatif berpagar, pernyataan keharusan, pernyataan keinginan, rumusan saran, persiapan pertanyaan, isyarat kuat, dan isyarat halus (Blum-Kulka, 1987). Jika kesembilan ujaran itu kita ujarkan, kita memperoleh sembilan tindak ujaran yang berbeda-beda derajat kelangsungannya dalam hal menyampaian maksud Dialog Liputan Enam SCTV.

METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan content analysis dengan tidak mengabaikan konteks tuturan. Secara deskriptif penelitian ini dilakukan semata-mata berdasarkan pada fakta yang ada atau fenomena yang memang secara emperis dilakukan oleh penuturnya, sedangkan secara kualitatif dengan pendekatan content analysis bertujuan mengungkapkan isi dan pesan-pesan/maksud yang terkandung pada tindak tutur dan memberi makna pada pesan yang terkandung di dalamnya dengan menggambarkan gejala tindak ujar yang terjadi (Mardalis, 1995:26 dan Muhadjir, 1996:49).
Data dari penelitian ini adalah Wacana Dialog SCTV (87 tuturan) yang digunakan pembawa acara dan narasumber. Masing-masing liputan diambil satu dialog yang versinya berbeda yaitu Liputan Enam Siang SCTV (57 tuturan; Rabu, 24 Februari 1999) dengan narasumber dua orang mengenai Penyadapan Telepon Andi M. Ghalib dengan Habibie dan Liputan Enam Petang SCTV (30 tuturan; Kamis, 4 September 1998) dengan narasumber satu orang mengenai Masalah Penggulingan Presiden Habibie.
Data diperoleh dengan cara merekam dialog Liputan Enam SCTV secara langsung melalui televisi, baik itu waktunya siang maupun petang. Masing-masing satu dialog setiap liputan. Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik meyeleksi rekaman dialog yang layak dianalisis, mentranskipsikan rekaman dialog ke dalam bahasa tulis, menginventarisasikan dan mengklasifikasikan, menabuliasikan, dan terakhir menghitung persentase untuk memberi informasi yang lebih pasti dan lengkap, artinya data kulitatif yang dikuanifikasikan (Irawan, 1999:85).

PEMBAHASAN
Tindak Tutur Wacana Dialog Liputan Enam Siang (LES) dan Liputan Enam Petang (LEP) SCTV Berdasarkan Jenis dan Fungsi Tuturan
Ditinjau dari segi jenisnya tindak tutur dapat diklasifikasikan atas empat macam yaitu tindak representatif, direktif, ekspresif, dan deklaratif. Tindak representatif yang ditemukan dalam wacana ini adalah tindak tutur yang berfungsi untuk mengemukakan, menjelaskan, menyatakan, meminta, dan mengira. Misalnya pada 1-(1) yang mengemukakan dengan menyatakan bahwa untuk membahas Penyadapan Telepon Andi M. Ghalib dengan Presiden Habibie telah hadir dua orang narasumber. Tuturan tersebut dapat dilihat dengan nyata oleh narasumber, pewawancara, dan pemirsa di rumah. Tuturan mengemukakan disini merupakan pernyataan suatu gagasan kepada orang lain sehingga orang lain dapat mengetahuinya.
Tuturan menjelaskan yaitu mengutarakan sesuatu dengan jelas atau menerangkan sesuatu dengan sejelas-jelasnya. Setelah penutur melakukan tindakan menjelaskan ini diharapkan mitratutur memahami penjelasan penutur dengan baik seperti tuturan 12-(13) yang mejelaskan kepada mitratutur tentang keadaan yang sebenarnya bahwa kasus penyadapan itu merupakan soal politik. Banyak kasus yang lebih berat untuk diselesaikan. Konsisten pemerintah dan MPR sangat tidak menentukan setiap kasus yang ditemui. Tuturan menyatakan adalah mengungkapkan suatu pernyataan. Bentuknya berupa pernyataan dari penutur tentang pendapat dan gagasan. Pada tuturan 6-(7) tuturan yang menyatakan suatu pendapat dari narasumber bahwa penyadapan disebabkan adanya semacam peluang politik yang terekspos memperlihatkan moralitas publik telah rusak.
Lain halnya dengan tuturan meminta yaitu mengarahkan kepada siapa ditujukan pertanyaan. Dengan menunjuk atau meminta ini orang yang ditunjuk menyiapkan diri untuk mendengar dan dapat menjawab dengan baik dan benar. Gunanya adalah untuk mempersiapkan diri mitratutur agar menyimak sekaligus menjawab apa yang ingin disampaikan oleh penutur. Sperti tuturan 5-(6) yang merupakan permintaan dilakukan oleh pewawancara untuk memulai pembicaraan dan membuka pembicaraan yang berupa peretanyaan. Untuk tuturan mengira merupakan tuturan suatu pendapat dan gagasan dari seorang penutur yang kebenarannya masih dipertanyakan.
Tuturan direktif bertujuan untuk menhasilkan suatu efek tindakan yang diinginkan penutur oleh mitratuturnya. Tindak direktif yang ditemukan dalam wacana ini berfungsi untuk mengusulkan atau saran dan memohon atau permintaan. Tuturan mengusulkan bertujuan untuk menyampaiakan gagasan atau ide tentang apa yang akan dilakukan. Tuturan memohon merupakan mengajukan permintaan atau permohonan kepada orang lain sebagai mitratutur dengan harapan permohonan tersebut dikabulkan. Seperti tuturan 14-(17) penutur mengusulkan dengan disertai harapan permohonan bahwa kasus tersebut disebabkan demi kepentingan umum hingga diketahui semua orang. Penutur lalu khawatir kasus penyadapan nantinya selesai begitu saja. Tindakan permohonan ini disampaikan permintaan dengan cara merendah dengan bahasa yang halus serta tidak bernada memerintah.
Tindak ekspresif adalah tindak tutur yang mempunyai fungsi mengutarakan sikap psikologis penutur terhadap keadaan yang tersirat. Fungsi tuturan ini adalah untuk mengucapan terima kasih dan mengucapkan selamat. Tuturan berterima kasih dalam mengucap syukur atau membalas budi setelah menerima kebaikan. Seperti yang diungkapkan pewawancara kepada narasumber telah hadir dan memeberi keterangan mengenai penyadapan telepon Andi M. Ghalib dengan Habibie. Tuturan berterima kasih diungkapkan pewawancara ketika mengakhiri acara dialog. Untuk ucapan salam merupakan suatu pernyataan memberikan salam mudah-mudahan dalam keadaan baik, sejahtera, sehat, dan walafiat. Ucapan selamat ini disampaian penutur ketika membuaka acara dialog dengan kedua mitratuturnya yang menyatakan ucapan selamat siang atau selamat petang untuk memberikan salam mudah-mudahan dalam keadaan baik dan bertambah akrab antarpenutur.
Tindak deklaratif adalah tuturan yang mengeluarkan pernyataan yang ringkas dan jelas untuk menyetujui, tidak menyetujui, dan memantapkan. Tindak menyetujui merupakan tindakan menyatakan setuju atau sepakat dengan membenarkan, menerima, memperkenankan usul dari perkataan mitratutur. Seperti tuturan 18-(25) merupakan tuturan tindak menyetujui dengan memperkenankan atau menerima usul dari pendapat orang lain. Penutur dalam tuturan tersebut mempunyai persamaan pendapat dengan diikuti penjelasn untuk memperkuat pernyataan tersebut. Lain halnya dengan tuturan tidak menyetujui merupakan tindakan menindakkan terhadap suatu pendapat, kurang sependapat, tidak sesuai terhadap usulan atau pendapat dari mitratutur. Tuturan tidak menyetujui terdapat pada tuturan 12-(14) penutur tidak mnyetujui terhadap suatu pendapat atau penutur kurang sependapat karena penyadapan itu bukan urusan pemerintah saja, tetapi MPR juga bertanggung jawab terhadap penjelasan kasus penyadapan itu. Untuk tindak memantapkan adalah mengukuhkan atau menjadikan teguh suatu pernyataan umumnya dilakukan dalam betuk pengulangan apa yang telah dilakukan oleh narasumber ditegaskan kembali oleh pewawancara.
Tabel 1
Tindak Tutur Wacana Dialog Liputan Enam Siang SCTV
Berdasarkan Jenis dan Fungsi Tuturan
No.
Jenis
Fungsi
Jlh. Tuturan
(Persentase)
Total (Persentase)
1.
Representatif
Mengemukakan
Menjelaskan
Menyatakan
Meminta
Mengira
1 (1,3%)
5 (6,4%)
14 (18%)
7 (9%)
6 (7,7%)
33 (42,3%)
2.
Direktif
Saran
Memohon
7 (9%)
1 (1,3%)
8 (10,3%)
3.
Ekspresif
Terima kasih
Selamat
1 (1,2%)
4 (5,1%)
5 (6,4%)
4.
Deklaratif
Menyetujui
Tidak menyetujui
Memantapkan

17 (21,8%)
6 (7,7%)
9 (11,5%)
32 (41%)
Total (Persentase)
78 (100%)

Ditinjau dari segi tindak tutur berdasarkan jenis dan fungsi tuturan dialog Liputan Enam Siang (LES) SCTV pada tabel di atas terdapat jenis tindak representatif (42,3%) yang berfungsi unutk menyatakan (18%), meminta (9%), mengira (7,7%), menjelaskan (6,4%), dan mengemukakan (1,3%). Jenis tidak deklaratif (41%) yang ditemukan adalah tuturan yang berfungsi untuk menyetujui (21,8%), memantapkan (11,5%), dan tindak menyetujui (7,7%). Jenis tindak direktif (10,3%) yang berfungsi untuk mengusulkan (9%) dan tuturan memohon (1,3%). Jenis tindak ekspresif (6,4%) yang berfungsi untuk menyampaikan ucapan selamat (5,1%) dan ucapan terima kasih (1,2%).
Tabel 2
Tindak Tutur Wacana Dialog Liputan Enam Petang SCTV
Berdasarkan Jenis dan Fungsi Tuturan
No.
Jenis
Fungsi
Jlh. Tuturan
(Persentase)
Total (Persentase)
1.
Representatif
Mengemukakan
Menjelaskan
Menyatakan
Meminta
Mengira
1 (1,8%)
4 (7,4%)
5 (9,3%)
7 (12,9%)
8 (14,9%)
25 (46,2%)
2.
Direktif
Saran
Memohon
7 (12,9%)
2 (3,8%)
9 (16,7%)
3.
Ekspresif
Terima kasih
Selamat
2 (3,8%)
4 (7,4%)
6 (11,1%)
4.
Deklaratif
Menyetujui
Tidak menyetujui
Memantapkan

10 (18,5%)
1 (1,8%)
3 (5,5%)
14 (26%)
Total (Persentase)
54 (100%)

Ditinjau dari segi tindak tutur berdasarkan jenis dan fungsi tuturan dialog Liputan Enam Petang (LEP) SCTV pada tabel di atas terdapat jenis tindak representatif (46,2%) yang berfungsi unutk mengira (14,9%), meminta (12,9%), menyatakan (9,3%), menjelaskan (7,4%), dan mengemukakan (1,8%). Jenis tidak deklaratif (16,7%) yang ditemukan adalah tuturan yang berfungsi untuk menyetujui (18,5%), memantapkan (5,5%), dan tindak menyetujui (1,8%). Jenis tindak direktif (16,7%) yang berfungsi untuk mengusulkan (12,9%) dan tuturan memohon (3,8%). Jenis tindak ekspresif (11,1%) yang berfungsi untuk menyampaikan ucapan selamat (7,4%) dan ucapan terima kasih (3,8%).
Tindak Tutur Wacana Dialog Liputan Enam Siang SCTV Berdasarkan Tingkat Kelangsungan
Searle (1975) berbicara tentang tindak ujaran langsung dan tindak ujaran tak langsung serta derajat kelangsungan tindak tutur itu diukur jarak tempuh yang diambil oleh sebuah ujaran, yaitu titik ilokusi (di benak penutur) ke titik ujaran ilokusi (di benak pendengar). Jarak paling pendek adalah garis lurus yang menghubungkan kedua titik tersebut dan ini dimungkinkan jika ujaran bermodus imperatif. Makin melengkung garis pragmatik itu, makin tidak langsuinglah ujarannya. Alih-alih jarak ilokusi derajat kelangsungan dalam tindak tutur Dialog Liputan Enam SCTV ini mengisyaratkan bahwa makin tembus pandang atau transparan atau kejelasan suatu ujaran makin langsunglah ujaran itu dan demikian pula sebaliknya.
Dalam hierrarki teoretis (HT) tipe ujaran berdasarkan skala penilaiannya adalah: 1 2 3 4 5 6 7 8 9
HT= MI-PE-PB-PH-PI-RS-PP-IK-IH
Sedangkan di dalam Liputan Enam Siang (LES) SCTV dan Liputan Enam Petang (LEP) SCTV skala penilaiannya adalah:
1 2 3 4 5 6 7 8 9
HT = MI-PE-PB-PH-PI-RS-PP-IK-IH
LES = MI-PE-PB-PH-…-RS-PP-…-IH
LEP = MI-PE-PB-PH-PI-RS-…-…-IH
Tabel 3
Tindak Tutur Wacana Dialog Liputan Enam Siang SCTV
Berdasarkan Tingkat Kelangsungan
No.
Tipe (Kategori)
Jumlah Tuturan
(Persentase)
Urutan/
Peringkat
1.
Modus Imperatif (MI)
30 (31,3%)
1
2.
Performatif Eksplistit
(PE)
17 (24%)
2
3.
Performatif Berpagar
(PB)
10 (14%)
3
4.
Pernyataan Keharusan
(PH)
6 (9%)
5
5.
Rumusan Saran
(RS)
7 (10%)
4
6.
Persiapan Pertanyaan
(RS)
5 (6,5%)
6
7.
Isyarat Halus (IH)
4 (5,2%)
7

Sifat hubungan yaitu tingkat kelangsungan atau keterjalinan tindak ilokusi dialog Liputan Enam Siang (LES) SCTV seperti yang terlihat pada tabel di atas terdiri atas ujaran bermodus imperatif (31,3%), performatif eksplisit (24%), performatif berpagar (14%), rumusan saran (10%), pernyataan keharusan (9%), persiapan pertanyaan (6,5%), dan isyarat halus (5,2%). Oleh karena itu, tingkat kelangsungan tindak tutur yang digunakan lebih langsung terlihat pada ujaran MI, PE, dan PB. Lebih langsungnya tuturan tersebut menyebabkan tuturan itu kurang santun. Kesantunan itu dapat dilihat peringkat yang paling menonjola yaitu IH, PP, PH, dan RS.
Jika dibandingkan dengan hierarki teoretis (HT) yang semata-mata ketembuspandangan atau ketaklangsungan ujaran. Hierarki teoretis itu, seperti yang dikemukakan oleh Blum Kulka (1987):
1 2 3 4 5 6 7 8 9
MI-PE-PB-PH-PI-RS-PP-IK-IH
Sedangkan hierarki yang ditemukan di dalam penelitian ini (HP) adalah:
1 2 3 4 5 6 7 8 9
MI-PE-PB-RS-PH-PP-IH-…-…
Seperti yang terlihat, kesamaan di antara HT (hierarki teoretis) dan HP (hasil penelitian) hanyalah pada peringkat MI, PE, dan PB masing-masing ke-1, ke-2, dan ke-3. Yang sangat mencolok adalah bahwa:
(1) RS menduduki peringkat ke-4 pada HP, padahal ke-6 pada HT
(2) IH menduduki peringkat ke-7 pada HP, padahal ke-9 pada HT
(3) PP menduduki peringkat ke-6 pada HP, padahal ke-7 pada HT
(4) PH menduduki peringkat ke-5 pada HP, padahal ke-4 pada HT
(5) PI serta IK tidak ditemukan di dalam wacana Dialog Liputan Enam Siang SCTV yang menduduki peringkat ke-5 dan ke-8 pada HT.
Berdasarkan sifat hubungan yaitu tingkat kelangsungan atau ketembuspandangan tindak tutur yang digunakan lebih langsung terlihat pada ujaran MI, PE, dan PB. Lebih langsungnya tuturan tersebut menyebabkan tuturan itu kurang santun karena makin transparannya sebuah ujaran atau makin jelas maksud sebuah ujaran makin langsunglah ujaran itu atau berdasarkan kesantunannya semakin santun dan demikian pula sebaliknya, tetapi bukan berarti tidak santun karena sesuai dengan misi utama wawancara dialog ini untuk mejelaskan tetang sesuatu informasi kepada penonton. Kesantunan itu dapat dilihat pada ujaran berdasarkan peringkat yang paling menonjol adalah IH, PP, PH, dan RS.
Jadi, tingkat kelangsungan atau keterjalinan antarpenutur dalam Dialog Liputan Enam SCTV berdasarkan persentase ujarannya lebih langsung dengan munculnya ujaran bermodus imperatif dan performatif eksplisit yang menduduki peringkat tertinggi dari setiap liputan. Sedangkan kalau dilihat berdasarkan kesantunan ujaran yang digunakan Liputan Enam SCTV ujarannya kurang santun. Kalngsungan itulah membuat Liputan Enam SCTV mudah dimengerti dan dipahami antarpenutur dan juga penonton pada setiap liputan.
Tindak Tutur Wacana Dialog Liputan Enam Petang SCTV Berdasarkan Tingkat Kelangsungan
Tingkat kelangsungan dan keterjalinan dari tuturan yang dilakukan pewawancara dengan narasumber Liputan Enam Petang SCTV berdasarkan persentase dapat dikatakan terjalin rapi terutama ujaran bermodus imperatif dan performatif eksplisit. Berdasarkan persentase dan peringkatnya Liputan Enam Petang SCTV tingkat kelangsungan ujarannnya atau tuturan yang disampaikan kurang langsung bila dibandingkan dengan modus imperatif, tetapi tuturan ini lebih santun digunakan penutur.
Tabel 4
Tindak Tutur Wacana Dialog Liputan Enam Petang SCTV
Berdasarkan Tingkat Kelangsungan
No.
Tipe (Kategori)
Jumlah Tuturan
(Persentase)
Urutan/
Peringkat
1.
Modus Imperatif (MI)
17 (31,5%)
2
2.
Performatif Eksplistit
(PE)
20 (37%)
1
3.
Performatif Berpagar
(PB)
5 (8,7%)
5
4.
Pernyataan Keharusan
(PH)
6 (11,1%)
3
5.
Pernyataan Keinginan
(RI)
2 (3,5%)
5
6.
Rumusan Saran
(RS)
1 (2,2%)
6
7.
Isyarat Halus (IH)
4 (7,4%)
4

Tingkat kelangsungan atau keterjalinan tindak ilokusi dialog Liputan Enam Petang (LEP) SCTV seperti yang terlihat pada tabel di atas terdiri atas ujaran bermodus performatif eksplisit (37%), imperatif (31,5%), pernyataan keharusan (11,1%), performatif berpagar (7,4%), isyarat halus (7,3%), pernyataan keinginan (3,5%), dan rumusan saran (2,2%). Oleh karena itu, ketembuspandangan tindak tutur yang diguanakan LEP SCTV ujarannya lebih santun atau kurang langsung dengan ujaran performatif eksplisit yang menduduki peringkat pertama jika dibandingkan dengan LES SCTV.
Seperti yang telah dijelaskan di atas tidak terdapat kesamaan di antara HT dengan HP yang menunjukkan bahwa ujaran diguanakn penutur lebih santun atau kurang langsung. Perbedaan yang sangat mencolok adalah:
(1) IH menduduki peringkat ke-4 pada HP, padahal ke-9 pada HT
(2) PH menduduki peringkat ke-3 pada HP, padahal ke-4 pada HT
(3) PE menduduki peringkat ke-1 pada HP, padahal ke-2 pada HT
(4) PB menduduki peringkat ke-5 pada HP, padahal ke-3 pada HT
(5) MI menduduki peringkat ke-2 pada HP, padahal ke-1 pada HT
(6) PI menduduki peringkat ke-6 pada HP, padahal ke-5 pada HT
(7) RS menduduki peringkat ke-7 pada HP, padahal ke-6 pada HT
(8) IK menduduki peringkat ke-8 dan PP menduduki peringkat ke-7 pada HT, sedangkan pada HP ujaran tersebut tidak ditemukan.
Jadi, hal itu menunjukkan Liputan Enam Petang SCTV kurang langsung atau lebih santun bila dibandingkan dengan Liputan Enam Siang SCTV.

PENUTUP
Ditinjau dari segi tindak tutur berdasarkan jenis dan fungsi tuturan dialog Lipuatan Enam SCTV terdapat tindak tutur yang mempunyai jenis tindak representatif (43,9%) yang berfungsi menyatakan (14,4%), meminta (10,6%), mengira (10,6%), menjelaskan (6,8%), dan mengemukakan (0,7%). Tindak deklaratif (34,8%) yang berfungsi untuk menyetujui (20,4%), memantapkan (12,9%), dan tidak menyetujui (6,3%). Tindak direktif (12,9%) yang berfungsi untuk menyarankan (10,6%) dan memohon (2,3%). Tindak ekspresif (8,4%) yang berfungsi untuk menyampaikan ucapan selamat (6%) dan ucapan terima kasih (2,3%).
Tingkat kelangsungan atau keterjalinan antarpenutur dalam dialog Liputan Enam SCTV berdasarkan persentase ujarannya lebih langsung dengan munculnya ujaran bermodus imperatif (LES: 31,3% dan LEP: 31,5%) dan performatif eksplisit (LES: 24% dan LEP: 37%) yang menduduki peringkat tertinggi dari setiap liputan. Sedangkan kalau dilihat berdasarkan kesantunan ujaran yang digunakan Liputan Enam SCTV ujarannnya kurang santun. Kelangsungan itulah yang membuat Liputan Enam SCTV mudah dimengerti dan dipahami antarpenutur dan juga penonton pada setiap liuptan.
Berdasarkan simpulan di atas maka disarankan kepada penelitian selanjutnya untuk mengkaji lebih spesifik dan mendalam dari aspek lainnya. Kepada redaksi pemberitaan terutama pewawancara dan narasumber Liputan Enam SCTV lebih ditingkatkan lagi penggunaan bahasa yang baik dan benar. Selain itu, kepada pengajar atau calon pengajar jadikanlah wacana dialog ini sebagai media pembelajaran kebahasan yang menarik selain wacana monolog apalagi dalam setiap pembelajaran bahasa Indonesia selalu didahului dengan wacana.

DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, Chaedar. 1997. Politik Bahasa dan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya Ofset.
Syamsuddin, A.R. et. al. 1992. Studi Wacana: Teori-Analisis-Pengajaran. Bandung: Mimbar Pendidikan Bahasa dan Seni.
__________. 1997. Studi Wacana Bahasa Indonesia. Jakarta: Proyek Penataran Guru SLTP setara D-III.
Brown, Gillian dan George Yule. 1996. Analisis Wacana. (Terj. I Soetikno) Jakarta: Gramedia Pustaka.
Blum-Kulka, Shoshana. 1987. “Indirectness and Politeness in Reguest: Same or Different?” Journal of Paragmatics. 11-46.
Ibrahim, Abd. Syukur. 1993. Kajian Tindak Tutur. Surabaya: Usaha National Indonesia.
Irawan, Prasetya. 1999. Logika dan Prosedur Penelitian. Jakarta: STIA-LAN Press.
Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Jakarta: Nusa Indah.
Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia,
Mardalis. 1995. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Sinar Grafika Offset.
Muhadjir, Neong. 1996. Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin.
Leech, Geoffrey. 1983. Principles of Pragmatics. London: Longman.
Pateda, Mansoer. 1990. Linguistik Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa.
Richard, Jack. 1995. Tentang Percakapan. (Terj. Ismari ) Surabaya: Airlangga University Press.
Searle, J.R. 1975. “Indirec Spech Acts” (dalam Cole, Peter dan J. Morgan). Sintax and Semantics: Speech Acts. New York: Academic Press.
Suwito. 1982. Sosiolinguistik Teori dan Problema. Surakarta: Henary Offset.
Tarigan, H. G. 1987. Pengantar Analisis Wacana. Bandung: Angkasa.

2 Komentar:

  • Pada 21 April 2009 02.00 , Blogger yulita mengatakan...

    aslm. Pak, ini Yulita Mustika...
    Tulisannya dapat membantu saya dalam memahami tindak tutur yang baik.
    o ya Pak, saya mau minta materi tentang ketentuan dalam pembuatan dan penggunaan media transparansi...

     
  • Pada 1 Juni 2009 21.14 , Blogger ZiL_EnT Bahtera mengatakan...

    Kelompok Razie Oktafiansyah

    KD :
    - mengemukakan hal-hal yang menarik atau mengesankan dari cerpen melaui kegiatan diskusi.
    - menemukan nilai-nilai cerpen melalui kegiatan diskusi.

     

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda