PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA

ILMU ILMIAH ALAMIAH

Senin, 13 April 2009

Pembelajaran Kontekstual dengan Metode Quantum Teaching pada Kemampuan Menulis Paragraf Mahasiswa Jurusan Akuntansi

Pembelajaran Kontekstual dengan Metode Quantum Teaching pada Kemampuan Menulis Paragraf Mahasiswa Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Bengkulu1
Oleh Arono2
FKIP Universitas Bengkulu

ABSTRAK
Pembelajaran kontekstual dengan metode quantum teaching merupakan suatu usaha peningkatan proses pembelajaran yang bermanfaat, efektif, dinamis, dan menyenangkan. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengungkapkan pembelajaran kontekstual dengan metode quantum teaching pada kemampuan menulis paragraf mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh dengan menggunakan metode observasi langsung, wawancara, dan studi dokumentasi. Data dianalisis menggunakan model interaktif yaitu reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual dengan metode quantum teaching pada kerangka TANDUR yaitu (1) tumbuhkan (T) dilaksanakan dengan pengajuan pertanyaan dan pembagian tema-tema kecil yang disebar kepada mahasiswa untuk menciptakan jalinan dan kepemilikan serta kebermanfaatan pembelajaran (AMBAK), (2) alami (A) yaitu mahasiswa mengelompokkan diri berdasarkan tema yang sesuai dengan jenis karangan (tugas kelompok), (3) namai (N) yaitu mahasiswa memberikan identitas, mengurutkan, dan mengidentifikasi berbagai macam tema hingga menjadikan suatu paragraf, (4) demonstrasikan (D) yaitu mahasiswa menulis paragraf utuh dan mempresentasikan, (5) ulangi (U) yang mahasiswa mengoreksi dan menyempurnakan paragraf antarmereka dalam kelompok dan antarkelompok secara klasikal, dan (6) rayakan (R) yaitu mahasiswa yang bertanya, menanggapi, mengkritik, dan presentasi diberikan point serta penanggap positif dan negatif diberikan penilaian.

Kata kunci: pembelajaran kontekstual, metode quantum teaching, kemampuan menulis paragraf
1Penelitian S-1 tgl. 17 Juli 1999 pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Padang
2Dosen pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Bengkulu

PENDAHULUAN
1Disajikan pada SEMIRATA 27 s.d. 28 Juni 2006 di Universitas Negeri Medan
2Dosen pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas BengkuluPembelajaran bahasa Indonesia saat ini masih kurang mendapatkan perhatian bagi mahasiswa yang akhirnya akan bermuara pada kurangnya kesadaran penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal itu terlihat dari adanya anggapan dari mahasiswa bahwa mata kuliah bahasa Indonesia di MKU merupakan mata kuliah pelengkap dan penderita, subkompetensi kurang terarah, dan pembelajarannya kurang menyenangkan. Hal yang paling mendasar tersebut disebabkan oleh dosen itu sendiri. Artinya seoarang dosen harus mengetahui betul keinginan mahasiswanya dalam pembelajaran seperti penguasaan materi, pengelolaan kelas, metode yang digunakan, dan latar belakang ilmu mahasiswa tersebut. Salah satu metode yang bisa dikembangkan untuk menepis anggapan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan metode quantum teaching dengan pendekatan kontekstual.
Ketika kita berbicara quantum teaching, sulit bagi kita menerapan metode tersebut. Sulit bukan berarti tidak bisa. Artinya berbagai usaha dapat kita lakukan untuk membawa mahasiswa agar pembelajaran yang kita lakukan menjadi menyenangkan. Quantum teaching juga bukan hanya bisa diterapkan di kalangan siswa atau anak didik pada jenjang SD, SLTP, dan SMA saja, tetapi pada mahasiswa di perguruan tinggi hal tersebut bisa kita terapkan. Hal itu terbukti dari angket yang penulis sebarkan pada mahasiswa bahwa 95% mahasiswa berpendapat bahawa pembelajaran bahasa Indonesia menyenangkan, mudah dipamahami, serta mereka dalam belajar tidak merasa terbebani. Itu membuktikan bahwa quantum teaching bisa kita terapkan di perguruan tinggi.
Kemasan quantum teaching dengan pendekatan kontekstual menjadikan pembelajaran lebih bermakna, efektif, dan menyenangkan. Hal tersebut dikarenakan penggunaan pendekatan kontekstual dalam kurikulum 2004 menuntut kesiapan dari semua pihak, terutama dosen yang berurusan langsung dengan kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Dosen merupakan keberhasilan penggunaan pendekatan kontekstual yang pada penerapannya harus diikuti dengan meningkatnya kreativitas diri seorang dosen tersebut. Dalam pendekatan kontekstual ini diharapkan dosen lebih kreatif dalam pembelajaran yang pada akhirnya mahasiswa akan lebih termotivasi untuk belajar mata kuliah bahasa Indonesia.
Pada prinsipnya kompetensi yang dituntut pada MKU bahasa Indonesia adalah mahasiswa mampu menulis sebuah karangan ilmiah. Hal yang menjurus untuk mendukung kompetensi ini salah satunya adalah penulisan paragraf argumentasi, tetapi jenis karangan lain bukan berarti diabaikan melainkan menjadi penunjang dalam pengembangan karangan ilmiah tersebut. Penulisan paragraf argumentasi bagi mahasiswa ini masih belum maksimal ini terlihat pada tes awal yang penulis lakukan dari 37 mahasiswa dengan rata-rata kemampuan mengarangnya masih cukup baik yaitu persentase kemampuan 60%-74% (61,12%). Hal tersebut diukur berdasarkan penggunaan kalimatnya, diksi, penggunaan ejaan, dan kemampuan mengungkapkan isi karangan. Sebagai mahasiswa calon intelektual yang setiap mata kuliah dijejali dengan tugas makalah memerlukan kemampuan diri dalam pengembangan paragraf argumentasi. Akan tetapi, kemampuan yang demikian belum memungkinkan untuk seorang mahasiswa dalam menulis karangan argumentasi sehingga perlu metode quantum teaching dengan pendekatan kontekatual untuk meningkatkan kemampuan mengarang atau menulis paragraf argumentasi bagi mahasiswa tersebut.
Sehubungan dengan permasalahan tersebut, tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan pembelajaran kontekstual dengan metode quantum teaching pada kemampuan menulis paragraf mahasiswa. Dengan mengungkapkan hal tersebut diharapakan akan berguna bagi perkembangan metode pembelajaran dan sumbangsih terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Pendekatan kontekstual merupakan penyempurnaan dari pendekatan-pendekatan yang digunakan di dalam kurikulum 1994. Menurut Depdiknas (2003:1) pendekatan kontekstual adalah sebuah kosep belajar yang membantu dosen mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata mahasiswa dan mendorong mahasiswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Sejalan dengan pendapat tersebut Latief (2002:249) menyatakan bahwa pendekatan kontekstual adalah pembelajaran yang berlangsung dekat atau terkait langsung dengan pengalaman nyata. Kedua hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontekstual merupakan pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran dan menekankan kepada terintegrasinya pengetahuan yang didapatkan mahsiswa dengan pengalaman di dunia nyata. Hasil akhir yang diharapkan adalah mahasiswa mampu berkomunikasi sesuai dengan konteks penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan bahasa tidak terlepas dari adanya konteks. Oleh sebab itu, perlu digunakan suatu pendekatan yang lebih memberdayakan mahasiswa dalam menggunakan bahasa sesuai dengan konteks. Pendekatan ini adalah pendekatan kontekstual dengan metode quantum teaching.
Quantum teaching merupakan suatu petunjuk spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi, dan memudahkan proses belajar. Seperti yang dikemukakan DePorter (2001:5) Quantum teaching itu adalah pengubahan bermacam-macam interaksi yang berada di dalam dan di sekitar momen belajar. Pengubahan bermacam-macam interaksi itu dirumuskan dalam suatu kerangka perancangan pengajaran quantum teaching dengan ikon “Maestro” yaitu TANDUR ( Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan) (DePorter, 2001:88-93).
Tumbuhkan. Pada kerangka tumbuhkan dilakukan dengan meyertakan mahasiswa, memikat mahasiswa, dan memuaskan AMBAK (Apakah manfaatnya bagi mereka?). hal itu dapat dilakukan dengan meyertakan penciptaan jalinan dan kepemilikan bersama atau kemampuan saling memahami. Penyertaan akan memanfaatkan pengalaman mereka, mencari tanggapan “yes” dan mendapatkan komitmen untuk menjelajah. Adapun pertanyaan tuntunan yang dapat dilakukan dengan hal apa saja yang mereka pahami? Apa yang mereka setujui? Apakah manfaatnya bagi mereka (AMBAK)? Pada apa mereka berkomitmen? Strateginya dapat dilakukan dengan menyertakan pertanyaan, pantomim, lakon pendek dan lucu, drama video, dan cerita.
Alami. Unsur ini memberi pengalaman kepada mahasiswa dan memanfaatkan hasrat almi otak untuk menjelajah. Pengalaman membuat Anda dapat mengajar “melalui pintu belakang” untuk memanfaatkan pengetahuan mereka. Pertanyaan tuntunan dapat dilakukan dengan cara apa yang terbaik agar mahasiswa memahami informasi? Permainan atau kegiatan apa yang memanfaatkan pengetahuan yang sudah mereka miliki? Permainan dan kegiatan apa yang memfasilitasi “kebutuhan unutk mengetahui” mereka? Strategi dapat dilakukan dengan menggunakan jembatan keledai, permainan dan simulasi. Perana unsur-unsur pelajaran baru dalam bentuk sandiwara. Beri mereka tugas kelompok dan kegiatan yang mengaktifkan pengetahuan yang sudah mereka miliki.
Namai. Penamaan memuaskan hasrat alami otak untuk memberikan identitas, mengurutkan, dan mendefinisikan. Penamaan dibangun di atas pengetahuan dan keingintahuanmahasiswa saat itu. Penamaan adalah saatnya unutk mengajarkan konsep, keterampilan berpikir, dan strategi belajar. Pertanyaan tuntunan dapat dilakukan dengan “perbedaan” apa yang perlu dibuat dalam belajar? Apa yang harus Anda tambahkan pada pengertian mereka? Strategi, kiat jitu, alat berpikir apa yang berguna untuk mereka ketahui atau mereka gunakan. Strategi yang dapat dilakukan dengan menggunakan susunan gambar, warna, alat bantu, kertas tulis, dan poster di dinding. Selain itu, dapat pula menggunakan jembatan keledai atau metafora.
Demonstrasikan. Memberi mahasiswa peluang untuk menerjemahkan dan menerapkan pengetahuan mereka ke dalam pembelajaran yang lain, dan ke dalam kehidupan mereka. Pertanyaan tuntunan dapat dilakukan dengan cara apa mahasiswa dapat memperagakan tingkat kecakapan mereka dengan pengetahuan yang baru ini? Kriteria apa yang dapat Anda dan mereka kembangkan bersama untuk menuntun kualitas peragam mereka? Strategi yang dapat ditempuh dengan sandiwara, video, permainan, rap, lagu, dan penjabaran dan grafik.
Ulangi. Pengulangan memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “Aku tahu bahwa aku tahu ini!” Jadi, pengulangan harus dilakukan secara multimodalitas dan multikecerdasan, lebih baik dalam konteks yang berbeda dengan asalnya (permainan, pertunjukan, drama, dan sebagainya). Pertanyaan tuntunan dapat dilakukan dengan cara apa yang terbaik bagi mahasiswa untuk mengulang pelajaran ini? Dengan cara apa setiap mahasiswa akan kesempatan untuk mengulang? Strategi yang dilakukan dengan daftar isian Aku tahu bahwa akau tahu; kesempatan bagi mahasiswa untuk mengajarkan pengetahuan baru mereka kepada orang lain (kelas lain, kelompok umur yang berbeda, menirukan orang-orang terkenal), menggemakan, pengulangan trio, dan bertepuk.
Rayakan. Perayaan memberi rasa rampung dengan menghormati usaha, ketekunan, dan kesuksesan. Sekali lagi, jika layak dipelajari, layak pula dirayakan. Pertanyyan tuntunan dapat dilakukan dengan mengemukakan pertanyaan seperti untuk pelajaran ini, cara apa yang paling sesuai untuk merayakan? Bagaimana Anda mengakui setiap orang atas prestasi mereka? Strategi yang dapat dilakukan dengan pujian, bernyanyi bersama, pamer pada pengunjung, dan pesta kelas.

METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Secara deskriptif penelitian ini dilakukan semata-mata berdasarkan pada fakta yang ada atau fenomena yang memang secara emperis dilakukan oleh penuturnya, sedangkan secara kualitatif dengan pendekatan studi kasus bertujuan mengungkapkan isi dan pesan-pesan/maksud yang terkandung dalam pembelajaran dan memberi makna pada pesan yang terkandung di dalamnya dengan menggambarkan pelaksanaan pembelajaran yang terjadi (Mardalis, 1995:26 dan Muhadjir, 1996:49).
Data dari penelitian ini adalah seluruh tindakan mahasiswa dan dosen dalam MKU pembelajaran bahasa Indonesia pada subkompetensi menulis paragraf argumentasi. Data diperoleh dengan cara merekam, mengamati, mengalami (tindakan), mencatat, tes, dan wawancara kepada mahasiswa pada setiap pembelajaran. Data yang ditemukan saat dan setelah pembelajaran berlangsung dianalisis dengan model interaktif (Miles Huberman dalam Rohidi, 1992:15-21) yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Reduksi data berlangsung secara terus-menerus selama pengumpulan data berlangsung samapai laporan akhir lengkap tersusun. Reduksi data merupakan bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, dan mengorganisasikan data dengan cara sedemikian rupa sehingga kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi. Penyajian data merupakan proses sekumpulan informasi tersusun yang memungkinkan untuk penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data juga merupakan gambaran secara keseluruhan dari sekelompok data yang diperoleh agar mudah dibaca secara menyeluruh. Adanya penyajian data maka penulis dapat memahami apa yang sedang dan akan dilakukan dalam mengantisipasinya. Menarik kesimpulan yang pada awalnya masih longgar namun meningkat menjadi lebih rinci dan mendalam dengan bertambahnya data dan akhirnya kesimpulan merupakan suatu konfigurasi yang utuh. Terakhir diadakan tes kemampuan menulis paragraf argumentasi untuk memberi informasi yang lebih pasti dan lengkap, artinya data kulitatif yang dikuantifikasikan (Irawan, 1999:85 dan Purwanto, 1986:143).

PEMBAHASAN
Pembelajaran Kontekstual dengan Metode Quantum Teaching pada Kemampuan Menulis Paragraf
Yang menjadi subjek atau informan dari penelitian ini adalah penulis sendiri dan 37 mahasiswa Jurusan Akuntansi S-1 Semester II Kelas A. Semua mahasiswa dalam penelitian ini terlibat aktif, artinya semua tingkah laku mahasiswa selama pembelajaran diamati sehingga diperoleh suatu data yang valid. Penelitian ini juga dilakukan selama lima kali pertemuan hari pertama yaitu tes awal kemampuan menulis paragraf mahasiswa, hari kedua, ketiga, dan keempat penerapan metode quantum teaching, serta hari kelima dilaksanakan tes akhir kemampuan mahasiswa menulis pargaraf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual dengan metode quantum teaching pada kelima kerangka dapat diuraikan berikut ini.
(1) Tumbuhkan (T) dilaksanakan dengan pengajuan pertanyaan dan pembagian tema-tema kecil yang disebar kepada mahasiswa untuk menciptakan jalinan dan kepemilikan serta kebermanfaatan pembelajaran (AMBAK). Pada kerangka tumbuhkan ini pengajuan pertanyaan untuk meningkatkan motivasi dan menyegarkan kembali pikiran mahasiswa agar tujuan pembelajaran bisa tercapai. Setelah mahasiswa motivasinya timbul, dosen memberikan penjelaskan tentang tujuan dan materi secara garis besar kepada mahasiswa. Setelah itu, dosen membagikan kertas-kertas kecil yang berisi tema-tema kecil yang bisa dikembangkan ke dalam lima jenis karangan. Tema-tema kecil dimasukan ke dalam amplop kemudian setiap mahasiswa mengambil kertas yang berisi tema-tema kecil dalam amplop tersebut. Hal tersebut dilakukan untuk tujuan penciptaan jalinan dan kepemilikan bersama atau kemampuan saling memahami. Penyertaan akan memanfaatkan pengalaman mereka, mencari tanggapan “yes” dan mendapatkan komitmen untuk menjelajah. Pertanyaan tuntunan yang dilakukan dengan hal apa saja yang mereka pahami? Apa yang mereka setujui? Apakah manfaatnya bagi mereka (AMBAK)? Pada apa mereka berkomitmen? Strateginya dilakukan dengan menyertakan pertanyaan dan cerita.
(2) Alami (A) yaitu mahasiswa mengelompokkan diri berdasarkan tema yang sesuai dengan jenis karangan (tugas kelompok). Setelah mereka mendapatkan semua tema-tema kecil tersebut, mahasiswa diminta duduk berdasarkan pengelompokkan tema-tema yang sejenis (jumlah kelompok sebanyak tujuh kelompok, masing-masing kelompok lima orang dan satu kelompok tujuh orang, tiga kelompok mengenai paragraf argumentasi, empat kelompok lainnya yaitu pargraf deskripsi, eksposisi, persuasi, dan narasi). Saat itu juga mahasiswa bergerak mencari teman-teman yang sekelompok sekaligus memaknai nama dari kelompok yang sudah mereka temukan. Pada tahap ini proses berpikir mahasiswa berjalan/aktif terhadap pemahaman yang sebelumnya sudah mereka ketahui. Strategi yang penulis lakukan dengan menggunakan permainan dalam pembentukan kelompok kemudian mereka memaknai dan melaporkan hasil kerja ke depan yang paling tepat dan benar.
(3) Namai (N) yaitu mahasiswa memberikan identitas, mengurutkan, dan mengidentifikasi berbagai macam tema hingga menjadikan suatu paragraf. Setelah semua sudah memaknai setiap nama kelompok tadi sekaligus memberikan tema yang cocok dengan jenis karangan yang mereka akan kembangkang, mahasiswa merumuskan menjadi suatu pargraf yang benar. Kegiatan diskusi atau tukar pendapat pun terjadi yang tertib dan lancar. Memang suasana kelas menjadi ribut, tetapi hal tersebut tidak menjadikan masalah karena hanya pada menit-menit pertama. Lema menit kemudian ia akan diam dana hanyut dengan pikirian kelomponya masing-masing.
(4) Demonstrasikan (D) yaitu mahasiswa menulis paragraf utuh dan mempresentasikan. Setelah mereka mengembangkan paragrafnya berdasarkan tugas masing-masing tiap kelompok, mahasiswa mempresentsekan hasil diskusinya ke depan kelas pada pertemuan keduanya. Untuk menerjemahkan hasil karya mereka, mahasiswa dibentuk dalam suatu kelompok penyaji, kelompok postif, dan kelompok negatif dengan cara bergilir hingga selesai. Setiap kelompok akan mendapat bagian satu kali sebagai penyaji, sekali sebagai kelompok positif, dan sekali sebagai kelompok negatif. Pertemuan kedua satu kelompok penyaji, pertemuan ketiga, tiga kelompok penyaji. Pertemuan keempat, juga tiga kelompok penyaji. Setiap kelompok durasi menyajikan 25 menit. Lima menit terakhir kesimpulan dan sekaligus penegasan dari dosen pembimbing. Kelompok penyaji bertugas menyajikan hasil diskusi dari paragraf yang telah mereka tulis. Kelompok negatif akan berkomentar dari segi kesalahan penulisan pargraf tersebut, sebaliknya kelompok positif mencoba mempertahankan atau mendukung mengenai hal-hal apa saja yang menjadikan sebuah paragraf tersebut menjadi baik. Kelompok yang belum dapat giliran tampil maka berperan sebagai anggota/peserta diskusi. Peserta diskusi ini akan memberikan pertanyaan, pendapat, kritik, dan peyempurnaan terhadap paragraf yang disajikan oleh kelompok penyaji. Setiap peserta yang berpendapat maka akan diberikan poin oleh dosen pembimbingnya.
(5) Ulangi (U) yang mahasiswa mengoreksi dan menyempurnakan paragraf antarmereka dalam kelompok dan antarkelompok secara klasikal. Proses yang terjadi pada kerangka demonstrasi terimplementasi pada kerangka ulangi. Berdasarkan tugas-tugas dari masing-masing kelompok tadi maka setiap mahasiswa akan berkomentar berdasarkan penggunaan kalimatnya, diksi, penggunaan ejaan, dan kemampuan mengungkapkan isi karangan. Pada kerangka ini akan terjadi tukar pendapat secara klasikal dan penyamaan pandangan dalam setiap jenis penyajian karangan hingga akhirnya akan menjadikan pemahaman yang mendalam pada setiap penyajian kelompoknya. Dalam kerangka ini pula ditutut adanya penguasaan materi atau pemahaman mahasiswa terhadap ilmu yang mereka miliki.
(6) Rayakan (R) yaitu mahasiswa yang bertanya, menanggapi, mengkritik, dan presentasi diberikan point serta penanggap positif dan negatif diberikan penilaian. Tahapan ini diberikan pada akhir kegiatan (hari keempat) terutama saat pengumuman kelompok yang terbaik menyajikan serta nilai tes akhir yang tertinggi. Hal itu penulis lakukan dengan pemberian penilaian yang objektif dan pemberian poin terhadap mahasiswa yang aktif dalam diskusi.
Keenam kerangka quantum teaching tersebut pada prinsipnya dalam setiap pembelajaran/pertemuan selalu penulis lakukan sehingga pembelajaran akan menjadi efektif dan menyenangkan. Setelah diterapkan metode quantum teaching dengan pendekatan kontekstual, hasil kemampuan menulis paragraf mahasiswa mengalami peningkatan yaitu yang semula persentase kemampuan 60%-74% (61,12%/cukup baik) menjadi 75%-84% (83,26%/baik).

PENUTUP
Berdasarkan pembahasan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual dengan metode quantum teaching pada kerangka TANDUR yaitu (1) tumbuhkan (T) dilaksanakan dengan pengajuan pertanyaan dan pembagian tema-tema kecil yang disebar kepada mahasiswa untuk menciptakan jalinan dan kepemilikan serta kebermanfaatan pembelajaran (AMBAK), (2) alami (A) yaitu mahasiswa mengelompokkan diri berdasarkan tema yang sesuai dengan jenis karangan (tugas kelompok), (3) namai (N) yaitu mahasiswa memberikan identitas, mengurutkan, dan mengidentifikasi berbagai macam tema hingga menjadikan suatu paragraf, (4) demonstrasikan (D) yaitu mahasiswa menulis paragraf utuh dan mempresentasikan, (5) ulangi (U) yang mahasiswa mengoreksi dan menyempurnakan paragraf antarmereka dalam kelompok dan antarkelompok secara klasikal, dan (6) rayakan (R) yaitu mahasiswa yang bertanya, menanggapi, mengkritik, dan presentasi diberikan point serta penanggap positif dan negatif diberikan penilaian.



DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah, et.al. 1992. Penelitian Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

DePorter, Bobbi. et. al. 2001. Quantum Teaching (terj. Ary Nilandari). Boston: Allyn and Bacon.

Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bhasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Depdiknas.

Keraf, Gorys. 1983. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia.

Latief, Adnan Mohammad. 2002. “Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis Konteks (Contextual Teaching and Learning/CTL)” Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya N0. 2 thn. 30, Agustus 2002. Malang: Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

Mardalis. 1995. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Sinar Grafika Offset.

Miles, Matthew B. dan A. Michael Haberman. 1992. Analisis Data Kualitatif. (terj. Tjetjep Rohendi Rohidi) Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Muhadjir, Neong. 1996. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sasrasin.

Nurgiantoro. 1988. Penelitian dalam Pengaruh Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFG.

Purwanto. 1986. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remaja Karya.

Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah. 2005. Bahasa Indonesia Perguruan Tinggi. Bengkulu: FKIP Universitas Bengkulu.

Suhendar dan Pien Supinah. 1992. MKU Bahasa Indonesia. Bandung: Pionir Jaya.

Tarigan, Hendri Guntur. 1992. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda